Angkutan kota itu datang, dengan beberapa penumpang di dalamnya. Aku terburu buru untuk pulang ke rumah, sehingga aku tidak sempat berfikir apa apa. Aku hanya memasuki angkutan kota yang diam itu. Sang Sopir berusaha untuk mundur pelan pelan sambil menunggu. Mungkin akan ada penumpang lain, mungkin bergitulah pikiran sang Sopir. Tetapi pertigaan itu masih sepi, belum keluar banyak murid. Dan jikalau memang banyak murid sudah keluar, apakah mereka akan naik? Memangnya mereka pulang dengan jalur yang sama denganku? Jalur angkot ini? Rasanya aku jarang melihat anak anak sekolahku pulang dengan angkot jalur ini.
Pak Sopir yang sadar bahwa penantiannya itu hanya membuang waktu, tancap gas secara perlahan. Beliau menjalankan alat pencari nafkahnya di jalur kiri, mungkin agar dekat dengan trotoar. Agar ketika ada penumpang, tak akan ada yang luput dari penglihatannya. Aku menunggu di dalam angkutan kota yang berjalan perlahan. Pikiran terbesit di benakku tentang sepinya angkutan kota ini. Memangnya orang orang ada dimana sekarang? Bagaimana mungkin bisa sesepi ini? Di kendaraan ini, hanya ada 4 penumpang, ditambah 1 sopir. 3 penumpang adalah siswi siswi SMA, dan aku masuk di antaranya.
Dua siswi SMA terlihat sudah bersiap siap turun, mereka menggamit tasnya erat dan mengubah posisi duduk mereka mendekat ke pintu. Sindoro, Pak. Dan dibarengi dengan ucapan tersebut, Sang Sopir meminggirkan kendaraannya ke mulut pertigaan. Dua siswi itu turun bersama, kemudian membayar jasa angkutan kota dengan uang mereka masing masing. Kini, yang tersisa hanya aku, dan seorang ibu ibu yang tampaknya baru saja berjualan buah di pasar. Atau mungkin, ibu itu sedang akan berjualan buah di pasar.
Angkutan kota kembali melaju, perlahan tapi pasti Sang Sopir membelokkan kendaraan menuju pom bensin di daerah Cacaban, Magelang. Disana beliau turun, membawa beberapa bundel uang yang terlihat kucel, dan berupa pecahan. Jelas. Itu pasti hasil beliau pagi ini. Saat memberhentikan angkot tepat di samping pom, angkot lain dengan jalur yang berbeda berhenti tepat di belakang angkot yang kunaiki. Sang Sopir tersenyum dan berkata "Piye, kurang bensin tapi ra ono duit". Sang Sopir tertawa ringan, yang dibalas dengan senyuman Mbak Pom Bensin yang sedang bertugas. "Berapa, Pak?" tanyanya. "Tiga puluh Lima, Mbak." Aku terkejut, memang ini bukan pertama kalinya aku melihat angkot yang isi bensin dengan uang yang relatif sedikit. Tapi, rasanya kok sedikit sekali? Harga bensin premium subsidi pemerintah sudah menjadi 4.500 kan? Kenapa hanya isi 35 ribu? Bukannya tadi bapak itu bilang bahwa beliau kekurangan bensin?
Hatiku mencelos, tersentuh. Aku melirik isi kantong seragamku. Ada uang, sepuluh ribu. Sedangkan tarif jasa angkutan kota hanyalah menghabiskan uang 1.500. Saat aku berfikir begitu,Angkutan Kota ini kembali berjalan, meskipun selama perjalanan belum juga mendapat penumpang baru.
Di mulut pertigaan, aku melihat angkutan kota lain yang menurunkan penumpang. Yang keluar adalah lelaki tua. Keriput terlihat jelas pada kulitnya, yang dibiarkan terbuka dengan hanya memakai kemeja lengan pendek dan celana potongan pendek putih di atas paha. Beliau tampak kurus ceking, dan beliau membawa tas tentengan hitam. Beliau memakai caping layaknya petani didesa pada umumnya, dan beliau juga hanya memakai sandal jepit kuning yang sudah kumal. Pose dan postur beliau saat berjalan cenderung aneh, beliau jalan sambil terpincang pincang. Saat keluar dari angkutan kota yang tadi, pun beliau tampak seperti terdorong keluar. Aku pun bertanya tanya, Bapak ini mau kemana? Adakah tujuan? Apakah mungkin bapak ini tadi diusir dari angkot karena tidak dapat membayar? Atau mungkin hanya perasaanku saja? Bisa saja bapak tadi hanya tersandung kursi penumpang kecil yang biasanya diletakkan di samping pintu angkutan kota. Terlalu banyak pikiran, tetapi jelas bahwa aku merasa kasihan dengan beliau. Yang mungkin, tidak sudi dikasihani.
Aku kembali merenung. Aku pernah berkenalan baik dengan seorang nenek tua yang berjualan krupuk di tengah deretan toko toko besar. Aku jadi takut, mungkinkah bapak tadi itu juga memiliki keadaan seperti nenek nenek yang kukenal? Karena aku takut menangis di angkot (lantaran terharu dan sedih atas pikiranku sendiri) , aku memutuskan untuk berhenti berfikir.
Sedihnya, sampai saat aku turun pun. Tidak ada penumpang baru, hanya aku dan ibu tadi. Dengan turunnya aku, maka akan hanya tinggal ibu yang tadi. Setelah ibu itu turun? Entah. Saat aku membayar dengan uang sepuluh ribu, bapak itu tampak kesusahan mencari kembalian. Beliau meraba sakunya, dan kemudian memberiku uang kembalian secara pas. Hatiku mencelos untuk ke sekian kalinya, aku hendak berkata maaf karena tidak memiliki uang yang pas. Tapi sebenarnya tanpa kembalian pun aku tidak apa apa. Aku berharap bahwa bapak itu tadi memang tidak mempunyai kembalian, sehingga aku bisa ikut bersedekah. Tetapi mungkin bukan sekarang saatnya, aku bisa membantu beliau. Sedekah yang mungkin aku berikan untuk saat ini hanya doa. Yang tak henti hentinya terucap sampai aku kembali ke rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar